TARI SANGHYANG SULING DI DESA ADAT BENGKEL ANYAR

Berdasarkan data dari informan, dikatakan bahwa keberadaan Tari Sanghyang Suling diperkirakan seumur dengan keberadaan Desa Adat Bengkel Anyar yaitu sekitar tahun 1910.
Pada saat itu terjadi banyak musibah para pendatang banyak yang sakit, bahkan sampai meninggal dan binatang peliharaannya banyak yang hilang tanpa sebab. Penduduk pada saat itu merasa resah. Akhirnya dibuatkan suatu upacara di Pura Batur ( sekarang pura Puseh Desa Adat Banyar Anyar ) dan beberapa orang kerawuhan, dimana disarankan masyarakat setempat untuk menyelenggarakan upacara ngrebeg dengan diiringi Tari Sanghyang Suling dan agar tetap melaksanakan upacara ngrebeg dengan Tarian Sanghyang Suling apabila terjadi wabah penyakit dan gejala yang tidak wajar.
Sejarah Tarian Sanghyang Suling di Desa Adat Banjar Anyar secara pasti sulit diketahui, namun hal itu dikaitkan dengan keberadaan Banjar Anyar yaitu munculnya tahun 1910, akibat adanya transmigrasi lokal diperkirakan Tari Sanghyang Suling tersebut seumur dengan keberadaan Desa Adat Banjar Anyar.
Sarana atau peralatan yang dipergunakan dalam pementasan Tari Sanghyang Suling antara lain : Suling dari bambu, Tirta ( air yang sudah disucikan ) beras, bunga jepun bali dan bunga cempaka.
Pertunjukan Tari Sanghyang Suling meliputi tiga tahapan yang sangat penting yaitu tahap nusdus, tahap mesolah/mapajar dan tahap ngeluhur. Setelah para pemangku menyiapkan segehan yang diperlukan dalam pementasan Tari Sanghayang Suling, para warga masyarakat dikumpulkan di tempat penudusan. Penari Sanghyang Suling berbusana adat ke pura biasa berwarna putih kuning dan dihias sekedarnya lanjut disucikan oleh pemangku. Tahap penudusan dimulai dengan iringan lagu-lagu oleh para penyanyi. Penari Sanghyang Suling diasapi dengan pasepan. Penari memegang suling yang telah dihias dengan kain putih kuning. Para penari Sanghyang Suling duduk menghadap pasepan. Para penyanyi juru kidung mengulang-ulang nyanyian penudusan untuk mengundang roh para Widyadari untuk turun dari Kahyangan. Pemangku melakukan pemujaan dengan mantra sesuai dengan sesaji yang tersedia. Tak lama kemudian penari Sanghyang Suling mulai seperti kerawuhan suling mulai bergetar dan penari mulai bergerak kesana kamari seolah-olah tak bisa dikendalikan.

Tahap kedua setelah penari mulai kerawuhan dilanjutkandengan mesolah ini merupakan inti dari pada pertunjukan. Kalau pertunjukan ini ditujukan untuk metenung, maka panari akan berlari-lari ketempat-tempat dimana bekas pencuri itu lewat. Penari menari-nari mengikuti bekas pencuri lewat seperti anjing pelacak. Pada saat ini penontonpun mulai tegang, was-was siapakah pencuri yang sebenarnya. Sayangnya kalau pencuri itu melewati sungai maka penari akan kehilangan jejak. Kalau sebagai pengusir roh jahat penari diarak keseluruh penjuru banjar dengan memercikan tirta dan beras dengan sekerura.
Tahap ketiga atau terakhir adalah ngeluhur. Pada bagian ini setelah penari diarak di banjar, penari kemudian kembali diasapi seperti pendudusan untuk mengembalikan roh Widyadari ke Kahyangan dengan iringan lagu penutup. Penari kembali sadar dengan diperciki tirta oleh Pemangku Demikian pementasan Tari Sanghyang Suling di Banjar Anyar.
Berdasarkan uraian yang dikemukakan diatas mengenai makna Tari Sanghyang Suling di Banjar Anyar dapat disimpulkan :
1. Tari Sanghyang Suling adalah sebuah tari sakral di Desa Adat Banjar Anyar yang hanya dipentaskan pada waktu tertentu bila keadaan daerah setempat mengalami musibah seperti kehilangan dan ditimpa wabah penyakit.
2. Awal mulanya muncul Tari Sanghyang Suling tidak diketahui dengan pasti. Berdasarkan informasi awal munculnya Tari Sanghyang Suling berawal ketika suatu saat tahun 1910 yang lalu warga desa Adat Banjar Anyar mengalami musibah sakit dan kehilangan. Atas dasar itulah melalui salah satu warga kerawuhan disarankan melaksaakan upacara dengan disertai pementasan Tari Sanghyang Suling.
3. Fungsi Tari Sanghyang suling bagi Desa Adat Banjar Anyar diyakini dapat menghalau segala macam musibah yang muncul baik secara lahiriah maupun rohaniah seperti kehilangan barang, penyakit gerubug ( sakit yang tidak ada obatnya ).

Tentang zablenk

saya seorang petualang demi sesuap nasi merantau dor to dor dari desa kedesa
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s