Sekaa Teruna “ KERTHA WAHANA “

Lambang Genta

Genta atau Bajra, senjatanya Dewa Iswara, berkedudukan di Timur…Iswara  artinya : Yang Maha Cemerlang. Tuhan atau Hyang Widhi diberi juga gelar sebagai Parama Iswara, artinya Yang Paling Cemerlang diantara Mahkluk Yang Cemerlang (Makluk Yang Bersinar).. Getaran suara genta akan memudahkan kita untuk berkosentrasi karena getaran suara genta ini ibarat sebuah “carrier wave”, gelombang pembawa, yang selaras dengan getaran/vibrasi dari alam semesta dan getaran/vibrasi dari alam kecil (microcosmos), alam roh individu….

PUTIK BERWARNA KUNING :

Merupakan lambang kesucian dan ketulusan hati

LAMBANG SWASTIKA

Swastika merupakan salah satu simbol yang paling disucikan dalam tradisi Hindu, merupakan contoh nyata tentang sebuah simbol religius yang memiliki latar belakang sejarah dan budaya yang kompleks sehingga hampir mustahil untuk dinyatakan sebagai kreasi Makna simbul Swastika adalah Catur Dharma yaitu empat macam tugas yang patut kita Dharma baktikan baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk umum (selamat, bahagia dan sejahtra) yaitu:
1. Dharma Kriya = Melaksanakan swadharma dengan tekun dan penuh   rasa                 tanggung  jawab
2. Dharma Santosa = Berusaha mencari kedamaian lahir dan bathin pada diri sendiri.
3. Dharma Jati=Tugas yang harus dilaksanakan untuk menjamin kesejahtraan dan          ketenangan keluarga dan juga untuk umum
4. Dharma Putus=Melaksanakan kewajiban dengan penuh keikhlasan berkorban serta rasa  tanggung  jawab demi terwujudnya keadilan social bagi umat manusia.

Lambang Bunga Teratai berjumlah 8 ( Delapan ) simbul dari Asta Brata

Asta Brata  delapan ajaran utama tentang kepemimpinan yang merupakan petunjuk Sri Rama kepada Bharata (adiknya) yang akan dinobatkan menjadi Raja Ayodhya. Asta Brata disimbulkan dengan sifat-sifat mulia dari alam semesta yang patut dijadikan pedoman bagi setiap pemimpin, yaitu :

  1. Indra Brata
    Seorang pemimpin hendaknya seperti hujan yaitu senantiasa mengusahakan kemakmuran bagi rakyatnya dan dalam setiap tindakannya dapat membawa kesejukan dan penuh kewibawaan.
  2. Yama Brata
    Pemimpin hendaknya meneladani sifat-sifat Dewa Yama, yaitu berani menegakkan keadilan menurut hukum atau peraturan yang berlaku demi mengayomi masyarakat.
  3. Surya Brata
    Pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat seperti Matahari (surya) yang mampu memberikan semangat dan kekuatan pada kehidupan yang penuh dinamika dan sebagai sumber energi.
  4. Candra Brata
    Pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat seperti bulan yaitu mampu memberikan penerangan bagi rakyatnya yang berada dalam kegelapan/kebodohan dengan menampilkan wajah yang penuh kesejukan dan penuh simpati sehingga masyarakatnya merasa tentram dan hidup nyaman.
  5. Vayu Brata (maruta)
    Pemimpin hendaknya ibarat angin, senantiasa berada di tengah-tengah masyarakatnya, memberikan kesegaran dan selalu turun ke bawah untuk mengenal denyut kehidupan masyarakat yang dipimpinnya.
  6. Bhumi (Danada)
    Pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat utama dari bumi yaitu teguh, menjadi landasan berpijak dan memberi segala yang dimiliki untuk kesejahteraan masyarakatnya.
  7. Varuna Brata
    Pemimpin hendaknya bersifat seperti samudra yaitu memiliki wawasan yang luas, mampu mengatasi setiap gejolak (riak) dengan baik, penuh kearifan dan kebijaksanaan.
  8. Agni Brata
    Pemimpin hendaknya memiliki sifat mulia dari api yaitu mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan, tetap teguh dan tegak dalam prinsip dan menindak/menghanguskan yang bersalah tanpa pilih kasih.

KELOPAK BUNGA DENGAN JUMLAH 4 ( EMPAT ) MERUPAKAN LAMBANG DARI Catur Guru

Catur Guru adalah empat tuntunan  yang merupakan ajaran yang patut kita teladani demi tercapinya suatu tujuan yang dicita-citakan

1. Guru Swadyaya : Tuhan Yang maha Esa / Ida Sanghyang Widhi merupakan            guru dari   segala guru yang menjadi sumber inspirasi
2.   Guru Rupaka : Orang tua yang selalu menuntun dan mengarahkan kita  untuk              kebajikan
3.   Guru Pengajian : Sumber pengetahuan sebagai pedoman untuk menatap masa depan
4.  Guru Wisesa : Penguasa yang mengayomi dan melindungi dalam melaksanakan              hak dan kewajiban

Daun teratai berjumlah 5 ( lima ) merupakan simbul dari Panca Sradha :

Panca Srada adalah dasar keyakinan kita selaku umat manusia sebagai pedoman berbuat sesuai dengan ajaran agama :

1. PercayadenganTuhan
2.PercayadenganAtma                                                                  3.PercayadenganKarmaPhala                                                             4 4.PercayadenganPunarbhawa
5. Percaya dengan Moksa

PITA BERLOGO :

Sebagai Pengikat persatuan dan kesatuan yang terdiri dari berbagai karakter dipersatukan dalam satu wadah yang terikat  untuk mencapai  tujuan

Lingkaran

Lambang dari suatu persatuan yang utuh tidak mengenal batas waktu dan keadaan

PADMA BERBENTUK TERATAI BERDAUN 5 ( LIMA )

Sebagai lambang dari Pancasila yang menjadi sumber dari segala sumber hukum yang mengayomi warga negara Indonesia

UNSUR WARNA :

Sebagai simbul dari berbagai macam watak dan karakter

MAKNA SIMBUL STT KERTHA WAHANA :

Organisasi Perkumpulan pemuda yang terdiri dari berbagai macam watak dan karakter dengan satu gerak dan langkah  berpedoman pada ajaran Panca Sradha serta bimbingan guru untuk meneladani sikap kepeminpinan menuju masa depan  dengan hati yang tulus secara berkesinambungan dalam negara kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

PIDARTA BASA BALI PANYEMBRAMA SAJERONING PAWIWAHAN

Om Swastyastu !

Inggih ndawegang ring ida dane para atiti miwah para sameton sane banget baktinin titiang, sane prasida sueca, ledang ngrauhin titiang madrebe gawe, riantuk punika titiang sakulawarga dahat nyuksemayang pisan. Pangaptin titiang sakulawarga, mogi-mogi karauhan ida dane para sameton sinamian sami-sami ngledangin.

Yen mungguing gawen titiange puniki sekadi sampun unggahang titiang ring sejeroning uleman, tan lian wantah muputang upacara upakara pawiwahan pianak titiange sane mawasta ………………………………. saantukan ipun sampun jatu karmayang titiang prasida makurenan marep ring ……………………….. saking desa ………………………indik pamargin  upakara pawiwahan punika sampun puputang titiang sane dibi , minakadi marupa upakara pabeakalaan kaajengin olih kelihan Desa saha kulawargan titiange sinamian. Soren ipun kirang langkung jam tiga titiang nglanturang upakara melepeh ngelantur raris bebas.

Inggih  sekadi mangkin tetujon titiange ngrauhang ida dane para semeton sinamian, tan lian wantah nunas restu miwah piteket-piteket marep pianak titiange, mogi-mogi Ida Sanghyang Widhi Wasa asung wara nugraha ngicen karahayuan ring sang kaupakara  rauh ring sikian titiange sekulawarga.

Lianan ring punika taler tan lali titiange ngaturang suksma, riantuk pasuecan ida dane para semeton titiang sane prasida rauh saha rarapan (jenukan, oleh-oleh). Sapunika taler marep ring sekeha truna-truni, kelompok suka duka “ …………………………. “  miwah kulawargan titiang ,sane ngwantu sajeroning karya puniki tan tali titiang ngaturang suksma banget.

Make wesana atur titiang yan prade wenten makakirang langkung antuk titiang ngaturang utawi wenten makatunan lewih ipun, inggihan ring payembrama, genah miwah aturan punika titiang nunas geng rena sinampura. sadurung titiang ngaturang parama santi, malih ajebos titiang nunas kaledangan Bapak kalihan Desa pinaka wakil saking para atiti, mangda sueca ngicenin piteket-piteket marep ring pianak titiang maka kalih, mangda wenten anggena panuntun miwah pangancan sajeroning nglaksanaan alaki rabi.

Suksma aturang titiang majeng ring Bapak kelihan Desa.

 

 OM SANTIH,SANTIH,SANTIH OM

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

ARTI LAMBANG SWASTIKA DALAM AGAMA HINDU

artikel-artikel ini dikutip dari berbagai sumber
LAMBANG SWASTIKA HINDU


Swastika merupakan salah satu simbol yang paling disucikan dalam tradisi Hindu, merupakan contoh nyata tentang sebuah simbol religius yang memiliki latar belakang sejarah dan budaya yang kompleks sehingga hampir mustahil untuk dinyatakan sebagai kreasi atau milik sebuah bangsa atau kepercayaan tertentu.

Diyakini sebagai salah satu simbol tertua di dunia, telah ada sekitar 4000 tahun lalu (berdasarkan temuan pada makam di Aladja-hoyuk, Turki), berbagai variasi Swastika dapat ditemukan pada tinggalan-tinggalan arkeologis ( koin, keramik, senjata, perhiasan atau pun altar keagamaan) yang tersebar pada wilayah geografis yang amat luas.
Wilayah geografis tersebut mencakup Turki, Yunani, Kreta, Cyprus, Italia, Persia, Mesir, Babilonia, Mesopotamia, India, Tibet, China, Jepang, negara-negara Skandinavia dan Slavia, Jerman hingga Amerika.

Budha mengambil swastika untuk menunjukkan identitas Arya.

Makna simbul Swastika adalah Catur Dharma yaitu empat macam tugas yang patut kita Dharma baktikan baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk umum (selamat, bahagia dan sejahtra) yaitu:
1. Dharma Kriya = Melaksanakan swadharma dengan tekun dan penuh rasa tanggung jawab
2. Dharma Santosa = Berusaha mencari kedamaian lahir dan bathin pada diri sendiri.
3. Dharma Jati=Tugas yang harus dilaksanakan untuk menjamin kesejahtraan dan ketenangan keluarga dan juga untuk umum
4. Dharma Putus=Melaksanakan kewajiban dengan penuh keikhlasan berkorban serta rasa tanggung jawab demi terwujudnya keadilan social bagi umat manusia.

Makna yang lebih dalam yaitu Empat Tujuan Hidup yaitu Catur Purusartha / Catur Warga: Dharma, Kama, Artha, Moksa.
1. Dharma = Kewajiban/kebenaran/hukum/Agama/Peraturan/Kodrat
2. Artha = Harta benda / Materi
3. Kama = Kesenangan / Hawa Nafsu
4. Moksa = Kebebasan yang abadi

Swastika dalam berbagai bangsa
Simbol ini, yang dikenal dengan berbagai nama seperti misalnya Tetragammadion di Yunani atau Fylfot di Inggris, menempati posisi penting dalam kepercayaan maupun kebudayaan bangsa-bangsa kuno, seperti bangsa Troya, Hittite, Celtic serta Teutonic. Simbol ini dapat ditemukan pada kuil-kuil Hindu, Jaina dan Buddha maupun gereja-gereja Kristen (Gereja St. Sophia di Kiev, Ukrainia, Basilika St. Ambrose, Milan, serta Katedral Amiens, Prancis), mesjid-mesjid Islam ( di Ishafan, Iran dan Mesjid Taynal, Lebanon) serta sinagog Yahudi Ein Gedi di Yudea.

Swastika pernah (dan masih) mewakili hal-hal yang bersifat luhur dan sakral, terutama bagi pemeluk Hindu, Jaina, Buddha, pemeluk kepercayaan Gallic-Roman (yang altar utamanya berhiaskan petir, swastika dan roda), pemeluk kepercayaan Celtic kuna (swastika melambangkan Dewi Api Brigit), pemeluk kepercayaan Slavia kuno (swastika melambangkan Dewa Matahari Svarog) maupun bagi orang-orang Indian suku Hopi serta Navajo (yang menggunakan simbol itu dalam ritual penyembuhan). Jubah Athena serta tubuh Apollo, dewa dan dewi Yunani, juga kerap dihiasi dengan simbol tersebut.

Di pihak yang lain, Swastika juga menempati posisi sekuler sebagai semata-mata motif hiasan arsitektur maupun lambing entitas bisnis, mulai dari perusahaan bir hingga laundry.

Bahkan perusaha besar Microsoft menggunakan lambang swastika miring ke kanan 45 derajat, mungkin sebagai lambang keberuntungan.Karena sampai saat ini tercatat sebagai perusahaan terkaya di Dunia.

Bahkan, swastika juga pernah menjadi simbol dari sebuah kekejaman tak terperi saat Hitler menggunakannya sebagai perwakilan dari superioritas bangsa Arya. Jutaan orang Yahudi tewas di tangan para prajurit yang dengan bangga mengenakan lambang swastika (Swastika yang “sinistrovere”: miring ke kiri sekitar 45 derajat) di lengannya.
Swastika sebagai lambang Dewa Ganesha (anak Shiva yang bermuka gajah), sebagai makna Catur Dharma.

Kata Krishna pada Arjuna di medan pertempuran ..ketika Arjuna harus berperang melawan saudaranya sendiri inilah yang salah ditapsirkan oleh Hitler yaitu “Lakukanlah apapun yang harus kau laukukan selama itu adalah tugasmu. Kau harus mengemban tugasmu dengan baik walaupun itu berarti harus membunuh (untuk kebaikan), karena melakukan tugasmu dengan baik adalah bentuk pengabdian pada Tuhan”

Hitler mungkin tertarik pada arti swastika makanya dia mengambil lambang swastika dan membaliknya, makanya dia bisa mambunuh dengan tanpa rasa bersalah. Karena dia berpikir apa yang diperbuatnya adalah apa yang benar. Dia berlindung dibawah Swastika yang arahnya terbalik, yang semestinya untuk makna Catur Dharma.
Setelah sang Suyasa memperbaiki cara duduknya. Rsi Dharmakertipun mulailah:

“Anakku, tadi anakku mengucapkan panganjali: “Om Swastyastu”. Tahukah anakndaapa artinya? Jika belum, dengarlah! OM adalah aksara suci untuk Sang Hyang Widhi.

Nanti akan Guru terangkan lebih lanjut. Kata Swastyastu terdiri dari kata-kata Sansekerta: SU + ASTI + ASTU, Su artinya baik, Asti artinya adalah, Astu artinya mudah-mudahan. Jadi arti keseluruhan OM SWASTYASTU ialah “Semoga ada dalam keadaan baik atas karunia Hyang Widhi”.Kata Swastyastu ini berhubungan erat dengan simbol suci Agama kita yaitu SWASTIKA yang merupakan dasar kekuatan dan kesejahteraan Buana Agung (Makrokosmos) dan Buana Alit (Mikrokosmos).
Bentuk Swastika ini dibuat sedemikian rupa sehingga mirip dengan galaksi atau kumpulan bintang-bintang di cakrawala yang merupakan dasar kekuatan dari perputaran alam ini.Keadaan alam ini sudah diketahui oleh nenek moyang kita sejak dahulu kala dan lambang Swastika ini telah ada beribu-ribu tahun sebelum Masehi.Dan dengan ucapan panganjali Swastyastu itu anakku sebenarnya kita sudah memohon perlindungan kepada Sang Hyang Widhi yang menguasai seluruh alam semesta ini.Dan dari bentuk Swastika itu timbullah bentuk Padma (teratai) yang berdaun bunga delapan (asta dala) yang kita pakai dasar keharmonisan alam, kesucian dan kedamaian abadi.

Sang Suyasa:
Oh Gurunda, maafkan kalau hamba memotong. Hamba tidak mengirademikian luas maksud dari ucapan panganjali atau penghormatan hamba tadi itu.Betul-betul hamba tidak tahu artinya.Hamba hanya mendengar dmeikian, lalu hamba ikut-ikutan saja.

Rsi Dharmakerti:
Memanglah demikian tingi nilai dari ajaran Agama kita anaknda. Guru gembira bahwa anaknda senang mendengarnya. Ketahuilah bahwa kata SWASTI (su + asti) itulah menjadi kata SWASTIKA. Akhiran “ka” adalah untuk membentuk kata sifat menjadi kata benda. Umpamanya: jana – lahir; janaka – ayah; pawa – membakar; pawaka – api, dan lain-lainnya.

Ingatkah anaknda apa yang Guru pakai untuk menjawab ucapan panganjali itu?Rsi Dharmakerti:
Tidak mengapa anaknda, Guru akan jelaskan bahwa arti kata OM SHANTI, SHANTI, SHANTI itu ialah: Semoga damai atas karunia Hyang Widhi”

Shanti artinya damai.Dan jawaban ini hanya diberikan oleh orang yang lebih tua kepada yang lebih muda.Sedangkan jawaban atau sambutan terhadap panganjali “Om Suastiastu” dari orang yang sebaya atau dari orang yang lebih tua cukuplah dengan Om Swastiastu yaitu sama-sama mendoakan semoga selamat.Hanya yang lebih tua patut memakai.Om Shanti, Shanti, Shanti terhadap yang lebih muda.Atau dipakai juga untuk menutup suatu uraian atau tulisan.

Sang Suyasa:
Gurunda, maafkan atas kebodohan diri hamba. Akan sangat banyak yang hamba tanyakan supaya benar-benar sirnalah segala kegelapan yang melekat di jiwa hamba.

Gurunda, walaupun kedengarannya agak ke-kanak-kanakan maafkanlah jika anaknda bertanya apa arti agama itu sendiri.

sumber :pustaka hindu

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Deskripsi cerita “ I Lacur “ ditinjau dari segi pendidikan agama Hindu .

Kacerita di desa anu pagumian Daha, ada kone anak cerik madan I Lacur. Ia anak ubuh tur tusing ngelah panyamaan. Ia nglintik padidiana buka batun buluane. I Lacur buka adanne lacur pesan. Ia patamianga pakarangan asuluh balangan. Ditu ada laad meten teken bale. Nanging ento makejang suba tusing ada. Kewala ia ngelah rerompok dogen abungkul maraab sumi. Yen ujan paling ngalih don-donan anggona ngengsubin tuduh raabne. Pondokne ento madinding klangsah, misi plangkan reod, tikeh suba uek.

Yadin pakangane ento tusing misi umah, masih sai-sai risakina. Sabilang ia teka uli dija-dija, jemaka aritne, nglantas ngrisakin pakarangan, sambilanga mamula bayem, tuung teken tabia. Suud keto lantas ia ngengsubin pondokne. Luune gaenanga bangbang lantas tunjela. Semengan mara bangun ia lantas nyampat di pondokne muah di pekarangane. Suba kedas mara kalahina luas. Keto dogen gegaenne I Lacur . Yang ada anak nunden, tuara taen tulak. Nanging timpal-timpalne makejang nyailin muah mlegendahang .

Sedek dina anu I Lacur suba suud nyampat dipakarangane lantas pesu. Kenehne lakar ngalih dondonan anggona jukut. Mara teked di rurunge teka timpal-timpalne ajaka liu, makejang mlegendahang. Ada ngewerin,ada ngecuhin, ada nunggingin, muah ada ngentutin. Yadin keto I Lacur mendep dogen. Ada aukud madan I Klaleng ane paling kuala. I Lacur entutina, tunggingina muah getoka. Katuju pesan dugase ento layangan pegat. Cerik-cerike makejang malaib nguber layangan ento. Layangane ento ngengsut di punyan juete. I Klaleng tanggu malu mongkod punyan juet. Timpalne masih bareng merebut. I Klaleng encol-encol menek, tusing tawanga carang juete tuh bakat glantingina lantas empak. I Klaleng ulung maglebug. Mara tingalina baan timpalne I Klaleng ulung, makejang pada malaib. I Klaleng ditu pepetengan. Tingalina baan I Lacur I Klaleng plaibina baan timpalne ditu encol I Lacur nulungin . I Klaleng sangkola baan I Lacur abana kepondokne, lantas uruta baan I Lacur. Nyanane mara ia inget aduh-aduh tuara dadi baana bangun. Limane lung, batisne lih. Disubane I Klaleng inget, lantas I Lacur ngomong, “ Meme, jani tiang lakar mulih “ . Masaut Men Klaleng, “ Yeh Lacur enden malu , baanga ngidih pipis “. Masaur I Lacur,” Depang suba malu, buin pidan tiang ngidih “.Suud ngomong keto I Lacur lantas pesu. Teked di rurunge, tepukina anak tua matungked nyuun sok , misi kesela sarat. Anake tua magregotan. Tinggalina teken I Lacur lantas jagjagina , laut ngomong,” Dadong mai tiang ngabaang soke ento “. Lantas jemakina suuna sokne baan I Lacur. Anake odah kendel pesan jemakina. Suba teked jumah anake odah , ngomong I Lacur, “ Dadong dija jang soke ene ? “. Masaut anake odah, “ Nah dini Cening jang sok dadonge ! “, Lantas pejanga di balene.

Suud keto, ngomong I Lacur , “ Dadong jani lakar kalahin tiang mulih “ . Masaut anake odah, “ Enden, enden malu cening, ne baanga kesela “ . Anake odah nyemak kesela dasa besik lantas baanga I Lacur. Ditu I Lacur mulih kendel pesan ngaba kesela. Teked jumahne lantas ngae jukut misi kesela. Suba lebeng lantas angkida. Satonden madaar ia nanding jukut aji don limang tanding. Aturanga di paon abesik, di plangkirane/ semere abesik, teken diwangane abesik. Suud keto mara ia naar jukute ento. Petengne ia masare nglintik padidianga.

Gelising satua, kacerita manine I Lacur luas ka alase ngalih dondonan wiadin paku lakar anggona jukut. Dadi kalunta-lunta pajalane , saget ia nepukin pondok melah pesan, pakarangane bersih , tur misi bunga magenepan. Ane ngelah pondoke ento Ki Dukuh Sakti. Mara I Lacur ditu bengong saget medal Jero Dukuh. Mara cingakina I Lacur, lantas nikaina , “ Ih cening mai ja ! “ I Lacur tengkejut laut nyongkok lantas matur , “ Titiang I Lacur “.

“ Dija umah ceninge ? “ patakon Jero Dukuh. Matur I Lacur, “ Titiang nenten ngelah umah “. Lamun keto cening nyak dini ajak bapa ? “. Matur I Lacur, Inggih yan Jerone ledang titian ngiring “.

Kocap Ki Dukuh ento sakti buina pradnyan. I Lacur ajahina mesastra, muah agama . I Lacur seleg pesan melajah , makelo-kelo dadi ia dueg. Disubane kelih ajahina maubad-ubadan. Yadin ia suba nongos ditu nagging ia tusing engsap teken pondokne, sabilang pitung dina pondokne delokina tur bersihina.

Sedek dina anu I Lacur kone mulih uli di padukuhan. Di rurunge tepukina ada anak negak ngeling aduh-aduh . Ditu lantas paakina tur takonina. Anake ento ngorahan batisne gutil lelipi, suba beseh tur tusing dadi baana majalan. Ditu I Lacur ngalih kupas lantas bedbeda batis anake ento. Suud keto lantas sangkola ajaka ka pondokne, lantas gaenanga penawar tur ubadina.

Ki Jero Dukuh ngandika , “ Nah keto suba Cening , yan nuju nepukin anak sengkala patut tulungin. Yang nulungin anak eda pesan ngitungan pangwales. Mani puan pedas cai nepukin karahayuan, Krana Ida Sang Hyang Widhi kaliwat wikan. Anake demen metetulung, tusing ja kuangan nyama braya “ .

Kacerita jani Jero Dukuh mireng orta Ida Raden Galuh sungkan banget, Lantas dane ngandikain I Lacur, “ Ih Lacur, bapa ningeh orta buat Ida Raden Galuh Daha sungkan sanget. Makudang-kudang balian nambanin masih tusing nyidaan. Nah jani kema cening tangkil ka puri nambanin Ida Raden Galuh. Ne bapa maang cening ubad utama. Yadin amun apa sarat sakit anake, yan ene anggon ngubadin pedas seger “, keto pangandikan Jero Dukuh lantas I Lacur icena serbuk, lengis teken manik.

Tan ceritanan di jalan saget suba kone teked di puri. Dapetangan di puri anake bek nangkil, minakadi para patih, para punggawa, muah prakanggone lenan . Makejang ngon , nyingakin I Lacur tangkil. “ Ih Lacur apa alih cai mai ngaduk-aduk ? sing tawang Raden Galuh sungkan ? “.

Matur I Lacur “ Inggih Gusti Patih , titiang jagi tangkil ring Ida Sang Prabu “.    Buin Gusti Patih Ngandika “ Ih Lacur cai tangkil teken Sang Prabu lakar nambanin Raden Galuh , beh degag pesan cai Lacur , balian sakti tusing nyidayang nambanin Raden Galuh kalingke cai, enu pecehan “.

Dadi kapireng olih Ida Sang Prabu lantas I Lacur nikaina apanga tangkil. Lantas I Lacur matur ring ida Sang Prabu tetujone tangkil pacang nambanin Ida Raden Galuh.

Kacerita kone Raden Galuh tan eling ring raga , Ida prameswari nangis ngelut putrane . Ditu lantas I Lacur nambanin Raden Galuh buka pituduh Jero Dukuh. Disubane katibakin tamba mewastu Ida Raden Galuh eling ring raga tur mresidayang metangi , mewastu ledeng kahyun Ida Sang Prabu . Prajani Ida Sang Prabu mesesangi saha ngandika “ Cai Lacur, Jani nira ngadegang cai dadi Manca Agung dini di Daha, tur cai baang nira palaba, carik dasa sikut, tegal dasa sikut, muah pakarangan tekening umah. Jani cai nongos dini. Nira ngentosin adan caine jani susud madan I Lacur cai jani madan “ I SUBAGIA “  Keto pangandikan anake agung .

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

TARI SANGHYANG SULING DI DESA ADAT BENGKEL ANYAR

Berdasarkan data dari informan, dikatakan bahwa keberadaan Tari Sanghyang Suling diperkirakan seumur dengan keberadaan Desa Adat Bengkel Anyar yaitu sekitar tahun 1910.
Pada saat itu terjadi banyak musibah para pendatang banyak yang sakit, bahkan sampai meninggal dan binatang peliharaannya banyak yang hilang tanpa sebab. Penduduk pada saat itu merasa resah. Akhirnya dibuatkan suatu upacara di Pura Batur ( sekarang pura Puseh Desa Adat Banyar Anyar ) dan beberapa orang kerawuhan, dimana disarankan masyarakat setempat untuk menyelenggarakan upacara ngrebeg dengan diiringi Tari Sanghyang Suling dan agar tetap melaksanakan upacara ngrebeg dengan Tarian Sanghyang Suling apabila terjadi wabah penyakit dan gejala yang tidak wajar.
Sejarah Tarian Sanghyang Suling di Desa Adat Banjar Anyar secara pasti sulit diketahui, namun hal itu dikaitkan dengan keberadaan Banjar Anyar yaitu munculnya tahun 1910, akibat adanya transmigrasi lokal diperkirakan Tari Sanghyang Suling tersebut seumur dengan keberadaan Desa Adat Banjar Anyar.
Sarana atau peralatan yang dipergunakan dalam pementasan Tari Sanghyang Suling antara lain : Suling dari bambu, Tirta ( air yang sudah disucikan ) beras, bunga jepun bali dan bunga cempaka.
Pertunjukan Tari Sanghyang Suling meliputi tiga tahapan yang sangat penting yaitu tahap nusdus, tahap mesolah/mapajar dan tahap ngeluhur. Setelah para pemangku menyiapkan segehan yang diperlukan dalam pementasan Tari Sanghayang Suling, para warga masyarakat dikumpulkan di tempat penudusan. Penari Sanghyang Suling berbusana adat ke pura biasa berwarna putih kuning dan dihias sekedarnya lanjut disucikan oleh pemangku. Tahap penudusan dimulai dengan iringan lagu-lagu oleh para penyanyi. Penari Sanghyang Suling diasapi dengan pasepan. Penari memegang suling yang telah dihias dengan kain putih kuning. Para penari Sanghyang Suling duduk menghadap pasepan. Para penyanyi juru kidung mengulang-ulang nyanyian penudusan untuk mengundang roh para Widyadari untuk turun dari Kahyangan. Pemangku melakukan pemujaan dengan mantra sesuai dengan sesaji yang tersedia. Tak lama kemudian penari Sanghyang Suling mulai seperti kerawuhan suling mulai bergetar dan penari mulai bergerak kesana kamari seolah-olah tak bisa dikendalikan.

Tahap kedua setelah penari mulai kerawuhan dilanjutkandengan mesolah ini merupakan inti dari pada pertunjukan. Kalau pertunjukan ini ditujukan untuk metenung, maka panari akan berlari-lari ketempat-tempat dimana bekas pencuri itu lewat. Penari menari-nari mengikuti bekas pencuri lewat seperti anjing pelacak. Pada saat ini penontonpun mulai tegang, was-was siapakah pencuri yang sebenarnya. Sayangnya kalau pencuri itu melewati sungai maka penari akan kehilangan jejak. Kalau sebagai pengusir roh jahat penari diarak keseluruh penjuru banjar dengan memercikan tirta dan beras dengan sekerura.
Tahap ketiga atau terakhir adalah ngeluhur. Pada bagian ini setelah penari diarak di banjar, penari kemudian kembali diasapi seperti pendudusan untuk mengembalikan roh Widyadari ke Kahyangan dengan iringan lagu penutup. Penari kembali sadar dengan diperciki tirta oleh Pemangku Demikian pementasan Tari Sanghyang Suling di Banjar Anyar.
Berdasarkan uraian yang dikemukakan diatas mengenai makna Tari Sanghyang Suling di Banjar Anyar dapat disimpulkan :
1. Tari Sanghyang Suling adalah sebuah tari sakral di Desa Adat Banjar Anyar yang hanya dipentaskan pada waktu tertentu bila keadaan daerah setempat mengalami musibah seperti kehilangan dan ditimpa wabah penyakit.
2. Awal mulanya muncul Tari Sanghyang Suling tidak diketahui dengan pasti. Berdasarkan informasi awal munculnya Tari Sanghyang Suling berawal ketika suatu saat tahun 1910 yang lalu warga desa Adat Banjar Anyar mengalami musibah sakit dan kehilangan. Atas dasar itulah melalui salah satu warga kerawuhan disarankan melaksaakan upacara dengan disertai pementasan Tari Sanghyang Suling.
3. Fungsi Tari Sanghyang suling bagi Desa Adat Banjar Anyar diyakini dapat menghalau segala macam musibah yang muncul baik secara lahiriah maupun rohaniah seperti kehilangan barang, penyakit gerubug ( sakit yang tidak ada obatnya ).

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Interprestai dari Ayodya Kanda

Persiapan Sang Rama menjadi Raja

Ramayana adalah epos yang sangat memikat imajinasi masyarakat di masa lampau. Kesusastraan Jawa Kuno merekam dan mengembangkan epos itu kedalam bentuk sastra yang sangat indah.Pada jaman sekarangpun agak sukar kita menemukan orang yang tidak mengenal atau belum pernah mendengar Ramayana, cerita anak,anak sampai pada seni drama dan wayang banyak sumbangannya karena diambil dari naskah-naskah dalam cerita Ramayana.                                                 Saat ini Ramayana oleh para ahli/peneliti dinyatakan sebagai karya sastra tertua ciptaan manusia yang tertuang dalam kekawin. Kekawin Ramayana adalah sebuah jenis sasrta yang telah mencapai kesempurnaan yang luar biasa. Epos Ramayana sarat dengan tata nilai, sebagai kompas kehidupan manusia. Ramayana dengan alur cerita yang demikian memilukan dan memikat dengan latar belakang tentang prilaku kehidupan anak seorang raja besar yang bernama Rama Dewa di ketahui sebagai perwujudan seorang awatara yang menyelamatkan dunia dari kehancuran karena keangkaramurkaan. Kitab Ramayana adalah kitab yang sangat apik menuturkan tentang kisah perjalanan hidup seorang Awatara  demi ketentraman dunia ini

Rama adalah seorang anak raja yang memiliki dan senatiasa patuh dengan segala perintah orang tuanya . Karena memahami bahwasannya apapun yang diperintahkan oleh ayahnya harus dilaksanakan . Salah satu bentuk bakti seorang anak kepada orang tua dalam membahagiakan orang tua. Sang Rama rela menyerahkan tapuk pimpinan kepada adiknya Bharata. Rama adalah sosok manusia yang penyabar dan tawakal sekalipun dia harus menderita . Kisah pilu yang dia hadapi disaat akan dinobatkan sebagai raja digagalkan oleh ibunya Dewi Kekayi.

Diceritakan Sang Prabu Dasarata dan putra-putranya yang telah lama berada di kerajaan Ayodya Pura, seluruh jagat memuji Sang Rama karena kesaktiannya dan kepandaiannya , membunuh semua musuh yang mengganggu di Asrama para Rsi.

Sang Rama sangat di puji oleh rakyat Ayodya, demikian pula oleh para pendamping beliau di keraton. Karena keluhuran budi beliau maka ayahandanya sangat mengharapkan supaya Sang Rama sebagai pengganti beliau mengendalikan kerajaan . Hal ini sudah tersebar keseluruh pelosok negeri. Acara penobatan raja telah ditentukan harinya, demikian pula tempatnya sudah dipersiapkan.

Singkat cerita hari penobatan raja sudah dekat dimana istri Sang Dasarata yaitu Dewi Kekayi merasa gerah di Keraton, karena keinginannya supaya anaknya Sang Bharata dinobatkan sebagai raja Ayodya sebagai pengganti Sang Dasarata. Keinginan Dewi Kekayi demikian tidak diketahui oleh Sang Bharata, karena beliau sedang berada di kerajaan Kekaya bersama dengan Kakeknya. Tatkala itu Dewi Kekayi menemui Sang Dasarata dengan maksud dan tujuan untuk menggagalkan penobatan Sang Rama sebagai raja , diganti oleh Sang Bharata, selanjutnya Sang Rama agar diasingkan ke tengah hutan selama dua belas tahun.

Permintaan Dewi Kekayi yang demikian menyebabkan Sang Dasarata bingung karena beliau tidak mau ingkar janji , karena tatkala beliau melamar Dewi Kekayi , beliau menjanjikan akan menjadikan raja anak yang lahir dari perkawinannya dengan Dewi Kekayi, disisi lain beliau tidak sampai hati untuk mengusir putra sulungnya Sang Rama. Akhirnya Sang Dasarata memberitahukan hal ini kepada seluruh pendampingnya, para menteri , rohaniawan dan  rakyat, semua pada kaget setelah mendengar sabda Sang Prabu demikian.

Mendengar permasalahan demikian akhirnya para menteri pendamping beliau disertai oleh rakyat Ayodya berkehedak menghadap kepada Sang Ragawa. Semuanya mencerminkan rasa penyesalan atas sikap Sang Dasarata untuk membatalkan penobatan Sang Rama  sebagai Raja Ayodya. Sang Dasarata lebih memilih permintaan istri Dewi Kekayi yang jelas sangat serakah akan kedudukan, beliau sangat tunduk dengan seluruh perkataan Istri.

Kedatangan para menteri dan rakyat Ayodya dihadapan Sang Rama dimana semuanya pada kecewa dengan raut muka masam dan perkataan yang tidak baik mengumpat sikap Sang Dasarata, didengar oleh Sang Rama , dan akhirnya beliau berkata kepada semua yang datang, sabda beliau “ Wahai para menteri dan seluruh rakyatku yang semuanya pada subakti, jangan sedih dengan kepergiaanku ke tengan hutan , karena itu sudah sabda dari sang Prabu yang tak mungkin aku tolak, karena beliau yang telah mengadakan Ku . Sudah sepatutnya aku tunduk atas semua titah  orang tua agar tidak diucap sebagai anak durhaka . Dari pada aku menolak sabda beliau lebih baik rasanya aku mati,wahai rakyatku semuanya kembalilah ke Ayodya, janganlah menyesal atas keadaan sekarang, karena adikku Sang Berata yang akan menggantikan ku sebagai Raja janganlah punya perasaan waswas karena aku mengakui keberadaan adikku Sang Berata sebagai Raja Ayodya. Demikianlah perkataan beliau Sang Rama kepada para mentri dan rakyatnya, selanjutnya beliau melanjutkan perjalanan menuju tengah hutan yang di ikuti oleh istrinya Dewi Metila dan adik kandungnya Sang Laksmana.

 

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Pikap Chrysler

 

Chrysler tertarik memasuki segmen truk kecil atau pikap setelah mengetahui adanya kekosongan di kategori tersebut, seperti diungkapkan Jesse Toprak, Wakil Presiden TrueCar.com bidang intelijen pasar dalam laporan Detroit Free Press.

Joe Veltri, Wakil Presiden Perencanaan Produk Chrysler, melihat kevakuman itu sebagai potensi keuntungan. “Berdasarkan data kami, laki-laki muda masih bercita-cita memiliki pikap,” sebut Veltri. Secara historis, lanjutnya, jika Anda kembali ke era 1980-an, segmen kompak atau pikap ukuran menengah justru lebih besar dari segmen ukuran penuh.

Hanya, kenapa pikap tidak lagi populer? Untuk masuk ke kelas pikap, Chrysler punya model konsep Dodge M80 yang diperkenalkan pada 2002. Veltri mengaku perusahaan sangat menyukai dan mencintainya sekarang. Tampilannya sedikit retro, tetapi secara keseluruhan sangat maskulin. Baca lebih lanjut
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar